Minggu, 07 Agustus 2011

RenHar Minggu 7 Agustus 2011.

RenHar Minggu Pahing 7 Agustus 2011.
1Raja 19:91.11-13a.
Rm 9:1-5.
Mat 14:22-33.
Kisah Petrus dalam Injil hari ini juga cerminan hidup manusia pada umumnya.
Tuhan selalu memanggil dan menghendaki kita bahagia dengan selalu hidup saling mengasihi dan melayani.
Tetapi kedagingan kita sering menjadikan kita mudah irihati dan sombong, menjauhi Tuhan, sekaligus rindu dekat dengan-Nya.
Ketika mendekat dan ingin melakukan kehendak-Nya, muncul keragu-raguan dan jatuh lagi dalam kedagingan menolak belas kasih Tuhan.
Sadari bahwa kekuatan doa dan mau belajar dari pengalaman hidup sendiri maupun orang lain akan meneguhkan niat kita.

Sabtu, 06 Agustus 2011

RenHar Sabtu 6 Agustus 2011.

RenHar Sabtu Legi 6 Agustus 2011.
2Ptr 1:16-19.
Mat 17:1-9.
Manusia cenderung statusquo, kalau sudah merasa enak dan nyaman maunya langgeng. 
Padahal selama masih hidup di dunia suka dan duka datangnya silih berganti, kadang susah kadang gembira, tetapi keduanya tidak ada yang kekal. 
Kalau menganggap kegembiraan itu kekal menjadikan orang sombong dan lupa diri. Sebaliknya jika kesedihan itu dikira langgeng membuat orang mudah irihati, putus asa tidak berpengharapan.
Bila kita cemas, serahkan hidup ini kepada Tuhan, niscaya Dia akan memastikan kita berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.
Hayati suka duka hidup untuk semakin mengandalkan Tuhan.

Jumat, 05 Agustus 2011

RenHar Jumat 5 Agustus 2011.

RenHar Jumat Kliwon 5 Agustus 2011.
Ul 4:32-40.
Mat 16:24-28.
”Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya...”
Tuhan selalu mengingatkan kita supaya belajar dari alam: Melayani dan memberi, menghargai proses dan keselarasan atau harmoni.
Jangan hanya mau menikmati kemuliaannya saja tetapi juga rela menjadi pelaku dari kenangan peristiwa masa lampau, ikut terus memelihara kehidupan sebagaimana Yesus sendiri melalui peristiwa salib telah menyelamatkan dan memelihara kehidupan.
Sesungguhnya setiap orang akan dibalas setimpal dengan perbuatannya.

Kamis, 04 Agustus 2011

RenHar Kamis 4 Agustus 2011.

RenHar Kamis Wage 4 Agustus 2011.
Bil 20:1-13.
Mat 16:13-23.
Sering kali cara hidup kita mengikuti Yesus sama dengan yang dilakukan Petrus. Maunya enak, nyaman dan instan, tidak mau berproses dan tidak rela menderita.
Ketika meraih sukses merasa jerih payahnya sendiri, dan maunya abadi. 
Sikap statusquo membahayakan hidupnya.
Kita teladani Petrus yang mau belajar dari hidup, mau bertobat, selanjutnya dalam segala hal selalu mengandalkan Tuhan.

Rabu, 03 Agustus 2011

RenHar Rabu 3 Agustus 2011.

RenHar Rabu Pon 3 Agustus 2011.
Bil 13:1-2a.25-14:1,26-29.34-35.
Mat 15:21-28.
”Hai ibu, sungguh besar imanmu! Terjadilah bagimu seperti yang kau kehendaki”
Pemohon kepada-Nya harus dengan  tulus hati dan gigih seperti perempuan Kanaan, memohon yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. 
Meskipun direndahkan martabatnya tetapi tetap tegar tidak malu berimankan kepada Tuhan.
Buahnya yakin permohonannya dikabulkan Tuhan.

Selasa, 02 Agustus 2011

RenHar Selasa 2 Agustus 2011.

RenHar Selasa Pahing 2 Agustus 2011.
Bil 12:1-13.
Mat 15:1-2.10-14.
Tuhan menghendaki kita memiliki kepribadian teguh tidak plinthat-plinthut hanya ikut arus besar yang menyilaukan mata, karena kuantitas tidak identik dengan kualitas.
Kebiasaan yang banyak dilakukan orang dan turun temurun belum tentu baik dan benar. 
Demikian juga yang baru ngetrend dan menurut ukuran manusia baik, belum tentu benar juga.
Kita teladani alam (adalah karya Tuhan) yang selalu melayani dan memberi, serta teguh menghargai proses dan keselarasan demi kelangsungan hidup manusia dan alam semesta.

Senin, 01 Agustus 2011

RenHar Senin 1 Agustus 2011.

RenHar Senin Legi 1 Agustus 2011.
Bil 11:4b-15.
Mat 14:13-21.
“Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasih kepada mereka…..”
Dalam perumpamaan Injil tentang gandum dan ilalang Tuhan mengajak kita menhargai proses dan keseimbangan, kehidupan, kebebasan serta panjang sabar.
Hari ini kita ditus melengkapi keteladanan Tuhan dengan selalu menggunakan hati yang berujung belas kasih.
Tetapi gerakan hati tidak cukup hanya prihatin, melainkan harus nyata dalam perbuatan, meski hanya sederhana tidak menyolok mata dan dilakukan dengan hati. 
Tuhan jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.